Catatan Perjalanan: Antrean di Perpustakaan

Perjalanan adalah sebuah babak yang mengesankan untuk melihat dunia yang lebih luas. Namun, perjalanan yang paling mengena apabila berbicara tentang buku dan perpustakaan adalah perjalanan saya saat berada di Amsterdam setahun yang lalu. Perjalanan yang mengubah pemikiran saya selama ini.

Setelah menyantap setangkup roti dan melewati beberapa stasiun, saya tiba di stasiun tujuan saya, Amsterdam Central Station, pada pukul 09.30. Matahari menghangatkan tubuh saya dan petualangan di Eropa sudah dimulai. Keluar dari stasiun, saya berbelok ke kiri untuk menuju kanal. Namun, pandangan saya tertuju pada sebuah gedung di mana orang-orang sudah berdiri di depan pintunya. Pasti ada sesuatu yang menarik, saya pikir. Saya bergegas ke sana untuk ikut serta dalam antrean.

ilustrasi_perpusMereka sibuk dengan menggenggam buku dan berdiskusi dalam Bahasa Belanda, bahasa yang asing bagi saya. Di depan pintu, seorang penjaga sudah menunggu. Ketika pintu terbuka, mereka semua langsung bergegas masuk. Ya, mereka menunggu bibliotheek alias Perpustakaan Amsterdam dibuka. Satu hal yang sangat kontras dengan yang terjadi di perpustakaan di Indonesia, negara saya. Saya menghela napas panjang sembari bertanya kapan perpustakaan Indonesia ditunggu oleh pengunjungnya seperti yang saya lihat saat itu.

Bukan bermaksud untuk membandingkan, tetapi tiba-tiba saja isi kepala saya kembali berangkat ke Indonesia. Pikiran saya mengingatkan beberapa hari sebelumnya saat berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik. Sepi, itu yang saya rasakan saat menginjakkan kaki di sana. Sempat saya pikir mungkin setiap hari seluruh pustakawan di dunia ini hanya akan menunggu pengunjung perpustakaannya. Seperti seorang teman yang juga sebagai pustakawan pernah mengeluh kepada saya betapa membosankannya menjadi seorang pustakawan karena perpustakaan tidak pernah menjadi tempat berlibur yang menyenangkan bagi banyak orang meskipun ia sudah berupaya.

Kembali kepada kenyataan yang ada, di mana saya berada di Perpustakaan Amsterdam yang selalu ditunggu-tunggu oleh pengunjungnya. Perlahan, saya insafi prasangka saya selama ini salah. Masih ada di belahan dunia lain di mana orang-orang dengan setianya menunggu perpustakaan buka, membaca, dan menyerap ilmu. Bahkan saya pernah melihat orang yang tahan berdiri sembari memegang buku saat berada di kereta. Negara yang saya kunjungi ini adalah negara yang benar-benar gila dengan membaca. Namun, mengapa di negara saya sendiri tidak bisa?

Saya mencoba menghapus pemikiran ‘tidak bisa’ itu. Cepat-cepat saya menggantinya dengan kata ‘bisa’ asalkan kita memiliki keinginan dan haus akan ilmu pengetahuan. Sekolah memang pusat pengetahuan, tetapi ia pun tidak akan tahu segalanya kalau para pendidiknya pun tidak membaca. Saya mencoba membayangkan suasana Perpustakaan Nasional di negara saya tenggelam dalam keramaian dan teman saya tersebut tidak akan lagi mengeluh tentang kesepian di ruang kerjanya itu. Ah, semoga bukan sekadar mimpi untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang tidak akan kenyang dengan pengetahuan seperti negara yang pernah menjajahnya ini.

Mungkin benar kata seorang teman yang pernah saya temui dan berkata kepada saya,”sebuah negara dapat menjadi kaya dengan ilmu pengetahuan jika rakyatnya mau membaca dan membaca karena tidak ada jalan lain untuk menyerap ilmu pengetahuan yang tidak ada batasnya ini selain membaca.”

Tag: