Buku Berkaki Kegiatan Buki Arsip - Buku Berkaki

Blog

Impian di Lembar Kertas

featured_intan_5hare

Bermimpilah setinggi langit, Jika engkau jatuh engkau akan jatuh diantara bintang-bintang

-Soekarno

Saya suka sekali kutipan itu. Setiap orang memang memiliki hak untuk bermimpi,  kaya atau miskin, muda atau tua, yang pintar atau yang masih belajar, semuanya bebas bermimpi tanpa ada dinding yang menjadi pembatasnya. Saya yakin setiap orang di dunia ini punya mimpi, sebagian orang telah berhasil meraihnya dan sebagiannya lagi gagal mencapainya  mencoba melupakan semua mimpi-mimpinya itu. Yang menjadi masalah besar disini sebenarnya adalah ketika seseorang mencoba melupakan semua impiannya karena takut untuk melawan mimpi-mimpinya sendiri.

Saya sering mendengar beberapa orang telah berhasil mencapai mimpi-mimpinya karena perjuangan besar yang Ia lewati untuk impiannya itu. Tapi tahu kah? Sebagian besar dari mereka berhasil meraih mimpi-mimpinya dengan menuliskan impian-impian mereka, karena goresan tinta di atas kertas lebih ajaib dibandingkan ingatan manusia yang terbatas untuk mengingat semua mimpi-mimpi itu.

Dan kali ini saya sangat beruntung karena dapat membaca mimpi beberapa adik-adik saat #visitbuki #5hareHappiness di Jogja dan Klaten, 3-4 September 2016 lalu. Buku Berkaki membuat program “Menulis Kebahagiaan, Impian dan Harapan” untuk membantu adik-adik mengingat kebahagiaan dan impian mereka yang harus diwujudkan.

Kunjungan pertama di hari pertama, saya sebagai salah satu Krucil Buku Berkaki ikut menyambangi Rumah Girlan Nusantara di daerah Ledoksari-Bokoharjo, Sleman, Yogyakarta. Rumah Girlan ini adalah sebuah yayasan sosial bagi kaum marjinal, sebagian dari mereka adalah anak-anak dan remaja yang hidup berkeliaran di jalanan. Anak-anak asuhan Pak Priyono ini tampak kuat dari luar saja, berpenampilan menakutkan dengan tindikan dan tato di badan, tapi sebenarnya yang saya lihat mereka sangat rapuh di dalam karena keputusasaan. Mereka memiliki hati yang lembut yang Ia persembahkan untuk Pak Priyono, seseorang yang telah memberikan cinta kasihnya pula untuk mereka (anak-anak asuhnya).

Seperti yang saya bilang sebelumnya, semua orang di dunia ini pasti punya mimpi. tak terkecuali dengan Anak-anak Rumah Girlan Nusantara asuhan Pak Priyono ini.

Salah satunya adalah Mita (14), kesukaannya bermain dokter-dokteran sewaktu kecil membuatnya bercita-cita untuk menjadi seorang dokter, namun sayangnya cita-cita itu ia kubur dalam-dalam karena keputusasaan. entah apa yang membuatnya putus asa. Tapi yang jelas semua belum terlambat bukan? Masih bisa diperbaiki, masih bisa terus belajar lagi untuk mencapai semua cita-cita itu. Ia dan teman-temannya lantas menuliskan tentang masa kecil, keluarga, hal-hal yang disukai, tempat bermain dan tentunya tentang cita-cita. Ajakan menulis ini diharapkan supaya mereka yang lupa dengan impiannya, bisa mengingat kembali apa yang ingin ia capai dan apa yang harus ia lakukan untuk mencapai cita-cita itu. Tanpa batasan dan keputusasaan, karena kita bebas untuk bermimpi dalam goresan tinta.

featured_intan_5hare

Pop Up Book buatan Pak Rendra

Kunjungan kedua dilanjutkan dengan mengunjungi Taman Baca Studio Biru di Dusun Ripungan, Prambanan-Yogyakarta. Di sana adalah sanggar anak dan taman baca pimpinan Pak Rendra. Sanggar yang mulanya adalah penampungan anak-anak ketika terjadi gempa Yogyakarta pada 2006 silam itu kini juga difungsikan menjadi taman bacaan yang super inspiratif. Anak-anak di sana disuguhi berbagai berbagai macam buku, bahkan mereka diberi keterampilan untuk membuat buku pop up yang keren banget.

Seperti namanya, Taman Baca Studio Biru berharap anak-anak didiknya menyukai buku untuk bisa berpengetahuan luas dan dapat mencapai cita-cita yang tinggi. Adik-adik juga sangat antusias, meski ada yang belum pandai menulispun. Mereka juga turut serta dengan bantuan Kakak-kakak Krucil.

Kunjungan terakhir pada hari pertama adalah di TPA Darul Haq desa Sembung, Klaten. Acaranya dimulai dengan bermain games, olah raga senam, nonton film dan tentunya “Menulis Kebahagiaan, Impian dan Harapan”. Setelah menulis, adik-adik juga membacakan karya yang mereka tulis. Di sana juga ada seorang adik perempuan yang menarik perhatian para Krucil ketika sebagian tulisannya itu ditulis dengan menggunakan bahasa inggris. Rupanya dia bercita-cita untuk menjadi guru bahasa Inggris. Mengagumkan bukan?

Menulis, sejatinya adalah cara paling sederhana untuk mewujudkan mimpi-mimpi.

When a book walks, a dream works.

Read more

Berbagi Harapan di Hari Kemerdekaan

Visit-Alqi-Agustusan

Tak ada kata bosan mengingatkan generasi penerus bangsa untuk memiliki harapan dan cita-cita setinggi langit. Tak luput juga dalam rangka memperingati dirgahayu kemerdekaan Indonesia yang ke-71.

‘’Apa sih harapan adik-adik untuk Indonesia ke depannya?’’

Pertanyaan itulah yang menjadi tema #VisitBuki pada Minggu, 13 Agustus 2016 lalu di panti asuhan Al-Qi Bogor. Ini bukanlah pertama kali Buki mengunjungi adik-adik panti asuhan tersebut. Beberapa krucil sudah lebih dahulu mengenal adik-adik panti asuhan Al-Qi semenjak mereka masih bayi hingga sudah menjadi bocah enerjik seperti sekarang.

Acara dimulai dengan doa bersama dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk melakukan games estafet sedotan. Adik-adik kecil hingga kakak-kakak yang lebih senior bekerjasama untuk menjadi tim terbaik dalam estafet sedotan. Lomba dilakukan dalam dua ronde dan semua team kompak bersemangat untuk menjadi pemenang.

Kali ini, Buki juga memiliki agenda mengasah keterampilan adik-adik dan berbagi harapan bersama mengenai Indonesia dengan membuat lampion harapan. Dengan menggunakan bahan kertas mika, gunting, dan doubletape, adik-adik bersemangat melipat dan menggunting sesuai arahan dari Kak Rere. Mereka juga diberi waktu untuk menuliskan harapan mengenai republik tercinta ini.

“Semoga Indonesia menjadi lebih indah”

“Semoga Indonesia makin maju, sejahtera, bebas korupsi, harga makanan menjadi murah”

“Ingin makin banyak teman-teman baik di Indonesia”

“Semoga di Indonesia bisa naik pesawat gratis”

“Saya ingin Indonesia lebih baik lagi dan seterusnya”

Begitulah sekilas harapan yang ditulis oleh adik-adik Al-Qi. Harapan yang ditulis di selembar kertas post-it tersebut disematkan di lampion kemudian digantung di sepanjang lampu warna-warni. Kerlap-kerlip lampu membuat cantik hall utama panti asuhan. Senyum manis penghuni panti asuhan Al-Qi pun merekah melihat hasil karya mereka menghiasi sudut ruangan.

Setelah makan siang, agenda peminjaman buku dan sesi membaca buku bersama tidak ketinggalan dilakukan. Adik-adik langsung berebut mencari buku dengan judul dan cover yang paling menarik minat mereka. Ibu Maya sebagai penanggung jawab panti berseru, “Benar dibaca isinya ya.. Jangan dibaca judulnya aja”. Disambung dengan jawaban koor mereka mengiyakan instruksi Bu Maya.

Dongeng bersama kakak Ale menambah keceriaan hari Minggu yang cerah di Bogor. Gaya penceritaan yang interaktif ditambah dengan humor segar khas Kak Ale menjadi sumber tawa ceria di hall panti asuhan siang itu. Kisah Nabi Daud melawan raksasa Jalud yang menyelipkan pesan keberanian menjadi tema dongeng bersama Kak Ale.

Penyerahan bantuan berupa sembako menjadi gong telah berakhirnya #VisitBuki kali ini. Setelah doa penutup, krucil pun berpamitan dengan adik-adik panti asuhan Al-Qi.

Perjuangan mengisi kemerdekaan masih panjang. Perjuangan melawan kebodohan disiasati dengan buku dan ilmu pengetahuan. Semoga #VisitBuki bisa menjadi sumbu api semangat pantang menyerah dan hidup yang lebih baik bagi adik-adik penerus bangsa tercinta Indonesia.

Sampai berjumpa lagi di #VisitBuki selanjutnya.

When a book walks, a dream works.

Read more

Berbicara Tentang Warna

Kopaja_featureds

“Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir?” ~ Erwin Arnada

Kita tidak bisa memilih dengan warna apa kita lahir, kalimat ini sungguh membuatku merinding tiap kali membacanya.

Read more

Surat Untuk Sahabat di Belanda

buki_kbsi

A child can teach an adult 3 things. Be happy for no reason, to always be curious, and figh tirelessly for something

Aku selalu menemukan kebahagiaan dari anak kecil. Melihat mereka seperti melihat cermin masa lalu. Melihat mata yang jernih itu, mengingatkanku di waktu aku seperti mereka. Bahwa hidup ini begitu mudah. Menatap dunia sebatas yang aku tahu. Tanpa tahu sebenarnya dunia ini terlampau luas bagiku.

Read more