Hakikat Waktu

Waktu bisa saja tak berharga, tak bernilai. Silahkan orang-orang bilang waktu bagai samurai. Tapi hei, ada 1 milyar orang sedunia yang aktif main internetan asyik sekali menghabiskan waktu. Jika kita tiap hari menghabiskan 2 jam saja, maka kita punya 2 milyar hour yang habis untuk hal main-main saja. Asumsikan Tembok Raksasa Cina itu butuh 20 tahun dikerjakan, dengan 1.000 tenaga kerja yang bekerja 12 jam per hari, kita dapat angka: 1.000 x 12 x 365 x 20 = 87,6 juta hour. Well, sejatinya, bangsa manusia bisa membuat sekitar 23 Tembok Raksasa Cina setiap hari. Nyatanya tidak, hanya dihabiskan main main. Seperti tidak bernilai, kan? Tapi bayangkan, jika kita hendak menghadiri acara penting, ujian, tes, dll, telat 30 detik saja tidak berani, bergegas sekali, seolah 1 detik sangat spesial. Bandingkan 30 detik vs 2 milyar hour. Inilah hakikat urgensi, terdesak atau tidak, penting atau tidak?

Hal ini saya sadari ketika saya pertama kali bergabung dengan buki, bertemu dengan relawan buki membuat saya kagum. Bukan, bukan karena mereka mampu membuat tembok raksasa cina, melainkan mereka mampu merubah dunia lewat buku.  Waktu mereka lebih berharga dari 2 milyar hour. Lewat buki saya lihat sebuah optimisme. Melalui buku anak bangsa mampu merubah dunia. Hal ini saya lihat dari simbol buki “when a book walks a dream works”.

Baca juga:
Buka Puasa Bareng Buki
Persembunyian Terindah
Terbentuk di Jambore Relawan

 

Saat itulah saya berkata bahwa waktu bisa saja tak ternilai, tapi waktu sungguh sangat berharga ketika hidupmu bisa bermanfaat bagi orang lain meski hanya 1 detik. Apalagi ditambah dengan kegiatan menarik yang ada di buki, salah satunya nobar film Wajda, lagi-lagi ada sesuatu yang menginspirasi dari gadis bernama Wajda di film tersebut:

-Tetap berusaha di atas semua kegagalan
-Tetap tekun di tengah semua kesulitan
-Tetap sabar meskipun dihantam rasa sakit
-Tetap tersenyum di antara derai air mata

**

F. Windya W
Krucil Buku Berkaki