Buku Berkaki Surat Untuk Sahabat di Belanda

Blog

Surat Untuk Sahabat di Belanda

A child can teach an adult 3 things. Be happy for no reason, to always be curious, and figh tirelessly for something

Aku selalu menemukan kebahagiaan dari anak kecil. Melihat mereka seperti melihat cermin masa lalu. Melihat mata yang jernih itu, mengingatkanku di waktu aku seperti mereka. Bahwa hidup ini begitu mudah. Menatap dunia sebatas yang aku tahu. Tanpa tahu sebenarnya dunia ini terlampau luas bagiku. Masa-masa disaat itu adalah hanya bermain. Jika dalam bermain aku terjatuh kemudian terluka, aku tetap bermain tanpa memedulikan luka di kaki dan di tanganku. Tertawa adalah obat paling ampuh untuk mengobati segala penyakit dan masalah. Anak-anak selalu tertawa tanpa memandang suatu masalah terlalu serius. Dan itu semua berlaku di semua kalangan anak-anak. Lalu apakah hal diatas berlaku untuk anak-anak jalanan? Anak yang diidentikkan dengan kurang beruntung, kondisi ekonomi rendah, pengamen, yang berada di jalan atau tempat-tempat umum lainnya, serta perilaku agresif ataupun identitas lainnya? Mudahkah hidup ini untuk mereka? Bahagiakah mereka dengan kehidupannya?

Menurutku, anak jalanan juga merupakan salah satu asset yang berharga untuk menjadi penerus Indonesia di masa yang akan datang. Dan mereka membutuhkan perhatian khusus karena mereka tumbuh di dalam keluarga prasejahtera dan lingkungan yang keras. Maka dari itu, menutup bulan April ini, aku ikut berpartisipasi dalam agenda rutin yang kerap dilakukan tiap akhir pekan Buku Berkaki. Berkolaborasi dengan sahabat PPI Wageningen, Belanda, menyapa adik-adik anak jalanan. mengajak bermain dan membaca. Kami datang dengan misi untuk berbagi.
Better late than never, demikian kata sebuah pepatah. Yang artinya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Minggu, 24 April 2016 kemarin, komunitas Buku Berkaki merayakan hari Kartini bersama dengan adik-adik anak jalanan yang rutin singgah belajar di KBSI (Komunitas Belajar Sejahterakan Indonesia) yang terletak di kawasan pemulung, Pasar Gaplok, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Kawasan yang letaknya berdampingan dengan rel kereta api dan kumuh. Tapi hal itu tidak menyurutkanku dan krucil BUKI lainnya untuk berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan dengan adik-adik KBSI.

Sesampainya di TKP, aku mencoba berbaur dengan mereka sembari menunggu krucil BUKI yang lainnya. Ternyata, sebagian dari mereka memang disekolahkan orangtuanya, walaupun setelah pulang sekolah mereka diharuskan mengamen untuk membantu perekonomian keluarga. Aku salut dan terharu. Bagaimana tidak? Diumur yang masih sangat belia, mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap keluarga. Mereka sudah berperan sebagai “tulang punggung” walaupun tidak sepenuhnya. Berada ditengah hiruk pikuk ibukota dan kehidupan manusia dengan segala realita dan sandiwaranya, tidak menyurutkan mereka untuk mencari uang. Setelah semuanya sudah berkumpul di pinggir rel kereta dengan pagar besi yang dijadikan sebagai sekat, serta terpal yang menjadi alas duduk bersama, aku dan Kak Maria melakukan sedikit Ice Breaking, menyapa seluruh adik-adik. Kemudian dilanjutkan membaca bersama yang menjadi kegiatan pembuka di #VisitBuki kali ini. Adik-adik dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian masing-masing kelompok diberi pendamping atau fasilitator dari krucil Buki untuk bisa membacakan buku cerita kepada mereka. Setelah krucil selesai membacakan buku cerita di kelompoknya masing-masing, adik-adik diberikan kesempatan untuk menceritakan kembali di depan teman-teman yang lain. Ini melatih keberanian dan rasa percaya diri mereka.

“Hayo siapa yang berani maju ke depan?” tanyaku dengan suara keras karena berbarengan denga suara bising kereta yang melintas.
“Aku kak!!”
“Aku akuuu!!”
“Akuuuuuuu!!”

Melihat adik-adik yang begitu antusias, ada rasa bahagia tersendiri untukku. Dan aku berharap kelak mereka bisa hijrah dari profesi ‘anak jalanan’ yang biasa dicap sebagai anak yang meresahkan masyarakat. Karena masyarakat umumnya melihat anak jalanan adalah predikat dengan sejumlah stigma sosial yang sudah menempatkan mereka pada posisi yang tersudut. Padahal jika kita membuka mata dan sedikit peduli terhadap nasib mereka, lihatlah, mereka sangat ingin MOVE ON dari kondisi mereka yang sangat memprihatinkan ini. Kalau bisa memilih, aku yakin mereka pun tidak sudi dilahirkan sebagai anak jalanan.

Aku dan Kak Maria bingung memilih satu diantara mereka. Karena ternyata rasa percaya diri anak-anak binaan KBSI ini tidak perlu diragukan lagi. Mungkin karena mereka juga sudah terbiasa tampil di depan umum untuk mengamen demi menyambung hidupnya. Akhirnya aku dan kak Maria memutuskan untuk maju sesuai dengan urutan kelompok. Satu demi satu maju mewakili kelompoknya. Mereka hebat. Mereka terlihat sama seperti anak-anak lainnya. Mereka rendah hati. Mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mereka belum mengenal kata gagal. Ketika ada beberapa anak yang maju dan tiba-tiba lupa akan ceritanya, mereka berusaha mengingat kembali. Bahkan sesekali memberikan kode lewat mata yang diarahkan ke fasilitator mereka untuk membantunya. Dan sebagai apresiasi, krucil BUKI memberikan hadiah atas keberanian mereka untuk tampil di depan umum.

Berikutnya adik-adik diajak mengenal sosok RA Kartini dan negeri Belanda yang dipimpin oleh kak Icha. Walaupun hari Kartini jatuh pada tanggal 21 April kemarin, kami tetap merayakannya. Tidak lupa juga sama-sama kami menyanyikan lagu ibu kita Kartini. Keberanian RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama untuk mendapatkan pendidikan pada era primordial atau ditengah masyarakat yang masih kolot, perlu diajarkan kepada anak-anak. Kemudian dilanjutkan dengan kuis. Yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, akan mendapat hadiah. Hal ini ditujukan untuk melatih seberapa besar daya tangkap dan daya ingat anak-anak.

“Hayooo siapa yang tau nama panjang ibu Kartini?” Tanya kak Icha setelah selesai menjelaskan deskripsi singkat tentang R.A Kartini. Disini kak Icha tidak hanya menjelaskan saja, namun kak Icha juga memberikan alat peraga berupa gambar agar anak-anak lebih tertarik untuk memperhatikan penjelasannya.

“AKU TAU KAAAAKKKKK. IBU KITA KARTINIIIIII!!” kata Alif, anak dengan rambut pirang ikalnya terlalu bersemangat. Rambut pirangnya bukan karena keturunan dari ayah dan ibunya. Melainkan hasil dari panasnya terik ibu kota.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Begitu juga dengan krucil dan teman-teman KBSI lainnya. Daya ingat anak-anak memang kuat. Yang mereka ingat adalah nyanyian Ibu Kita Kartini yang dinyanyikan beberapa kali.
Kak Icha membenarkan jawaban Alif dengan sabar. Walaupun salah, Alif tetap mendapatkan hadiah dari BUKI atas keberaniannya untuk menjawab pertanyaan. Lalu dilanjut dengan pertanyaan kedua.

“Siapa yang tau dimana RA Kartini lahir?”
“BELANDA KAAAAAAKKKKKKKKKK!!” jawab mereka serentak. Padahal sudah jelas-jelas tertulis di alat peraga yang kak Icha pegang, bahwa RA Kartini lahir di Jepara. Mungkin karena setelah penjelasan mengenai RA Kartini dilanjutkan dengan penjelasan negeri Belanda, jadi mereka pikir ada korelasi antara RA Kartini dan negeri Belanda. Dan lagi-lagi. Daya ingat anak-anak memang kuat.

Acara selanjutnya adalah “Surat untuk Sahabat di Belanda”. Adik-adik diajak untuk menulis surat yang akan dikirimkan ke kakak-kakak PPI Wageningan, Belanda. Karena kegiatan menulis, pada dasarnya, kegiatan yang baik dilakukan oleh anak. Dengan menulis, kreativitas anak dapat ditingkatkan. Dengan menulis, seorang anak ibarat membenamkan diri dalam proses kreatif. Ketika mereka menulis, itu berarti mereka menciptakan sesuatu, yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan pemecahan. Ada yang menanyakan kabar, ada yang minta sepatu baru, ada yang minta didoakan agar bisa ke Belanda, dan ada yang mengutarakan cita-citanya.

Lalu dongeng kak Ale tentang bagaimana tata cara berkirim surat pun jadi hiburan penutup kegiatan kali ini. Mengapa dongeng? Karena cerita atau dongeng memiliki penokohan dan plot yang sanggup menarik sisi emosi pembaca atau pendengarnya. Saat mendengar atau membaca sebuah cerita, anak akan merasa terlibat dalam alurnya. Anak akan membayangkan apa yang mereka dengar dalam pikiran mereka, belajar memaknai dengan caranya sendiri dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan adalah rupa konfirmasi dari apa yang mereka bayangkan.
Ketika sudah merasa menyatu dengan cerita, anak akan terpancing daya imajinasinya. Dari simulasi kata-kata, anak akan menciptakan imaji. Dengan cerita yang sama, imajinasi yang tercipta akan berbeda, karena emosi yang dirasakan oleh anak-anak pasti akan berbeda satu dengan yang lain. Kemampuan atau daya berimajinasi itulah yang akan mempengaruhi tingkat kreativitas seorang anak. Dimulai dari imajinasi, anak akan belajar melahirkan solusi kreatif. Ia mulai memasuki tahapan tertinggi dalam belajar, yaitu mencipta. Dengan cerita, anak dapat diajak untuk membayangkan bagaimana sang tokoh dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dan mengonstruksi nilai, cara berpikir, merasakan, serta berperilaku, seiring dengan cerita yang disimak dan dibayangkan bersama sang pencerita.

Dan sangat terlihat dari reaksi anak-anak ini, mereka seperti menempatkan diri mereka menjadi Alisya, seorang anak perempuan yang rindu kepada ibunya di negeri sebrang. Bagaimana cara Alisya menyampaikan rasa rindunya melalui surat. Bagaimana agar surat yang Alisya tulis bisa sampai dan dibaca oleh ibunya. Kemampuan berbahasa lisan kak Ale untuk menyampaikan makna dari dongeng Alisya ini patut diacungkan jempol. Rangkaian kata dan efek suara yang disampaikannya kreatif dan tidak membosankan. Lafal ucapan menarik, keras, dan jelas. Intonasi suara mengikuti alur cerita kapan saat bersuara keras atau lembut. Suaranya dibuat berbeda antar tokoh dan narator. Dan yang paling disenangi oleh anak-anak adalah mendengarkan kak Ale menirukan suara.

Oh ya, jangan lupa baca isi surat-surat mereka di tautan ini ya..

When a book walks, dream works.

%d blogger menyukai ini: