Yuk, Belajar Bahasa Ibu Lagi

Di tengah tercetusnya hari plastik yang dilaksanakan di berbagai kota, termasuk Jakarta, pada hari Minggu lalu, ternyata terselip satu perayaan yang mungkin belum banyak orang tahu. Termasuk penulis yang baru mengetahui kalau pada hari Minggu lalu, 21 Februari, dikenal juga sebagai hari bahasa ibu internasional.

Dalam kunjungannya kali ini, Buki mengajak para krucil untuk mempelajari kembali bahasa ibu kepada anak anak dari Rumah Baca Ichi. Taman baca yang terletak 400 meter sebelah timur stasiun Duren Kalibata ini memberikan semangat baru untuk terus menghargai dan menggunakan bahasa ibu, bahasa Indonesia, yang telah menyatukan 700-an bahasa daerah di seluruh tanah air.

Kunjungan pertama Buki kali ini, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang terdiri dari 3 stanza. Buat Anda yang belum tahu apa itu stanza, ia merupakan bentuk awal lagu kebangsaan kita yang diciptakan oleh WR Supratman. Terdiri dari stanza satu yang selama ini kita nyanyikan bersama, yaitu untuk persatuan bangsa. Sedangkan Stanza 2, berisi doa untuk sumber daya alam Indonesia, serta stanza 3 tentang harapan kejayaan Indonesia, baik di darat maupun di laut.

Untuk memperkuat bahasa Indonesia dikenal oleh anak anak, Kak Vira dan Bang Ali dari Buki mengenalkan tentang tanda baca yang akan sering anak jumpai tidak hanya di buku pelajaran saja, tetapi di manapun itu. Karena, dengan adanya tanda baca, sebuah kalimat hanya dapat memiliki satu arti dan tidak memiliki arti ganda.

Baca juga:
Catatan Kecil  Kampung Dwimulyo
Mengintip Senyum Kecil diPenjaringan
Jelajah Origami Laut diRawamangun

Rumah baca yang mampu menampung 30-an anak anak dan krucil BuKi ini, juga dikenalkan dengan salah satu bahasa ibu yang berasal dari luar Indonesia, bahasa mandarin. Loh kok harus mempelajari dari luar negeri juga? Ternyata, menurut data BPS pada 2011 lalu, tercatat ada sekitar 6% lho penduduk tionghoa yang berada di Jakarta. Itu jauh melebihi etnis lain seperti Jepang, Korea, India, Arab bahkan Western di Jakarta.

Melalui sesi bersama Koh Denni yang mengenalkan bahasa mandarin, anak anak-dan juga krucil, tidak terkecuali penulis-saling belajar bahasa mandarin sederhana. Mulai dari pelafalan huruf mandarin, hingga percakapan dasar. Koh Denni pun mengajak untuk melafalkan angka dalam bahasa mandarin, mulai dari (satu) hingga shí (sepuluh).

Kunjungan kali ini ditutup dengan saling mengenali antara Buki dan pengasuh IndoCharity (Ichi). Tidak lupa, dengan menitipkan puluhan buku dari Buki, yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca mereka dan untuk belajar bahasa Indonesia.

Hmm, menarik bukan pelajaran bahasa yang dilakukan Buki kemarin? Ayo terus lestarikan dan gunakan bahasa ibu Indonesia. Oh iya, tidak lupa juga untuk menggunakan bahasa ibu dari masing masing daerah agar tidak punah ya, Krucil.

Yuk, kita tunggu lagi perjalanan Buki selanjutnya dan sampai jumpa Ichi di kesempatan selanjutnya!