Pada Sabtu 25 Juli 2026, beberapa Krucil Buku Berkaki menyambangi Yayasan Saung Penca di Desa Cimande, Kabupaten Bogor. Kunjungan itu membawa rencana pendirian rumah baca atau perpustakaan di tempat adik-adik biasa belajar pencak silat.
Cimande selama ini dikenal sebagai salah satu tempat yang lekat dengan sejarah dan perkembangan pencak silat. Di Saung Penca, anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama berkumpul dan berlatih setiap Minggu pagi. Di sudut aula tempat latihan terdapat sebuah ruang yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai ruang baca. Nantinya akan diisi rak dan koleksi buku referensi, papan tulis, media pembelajaran visual, maupun perangkat penunjang kegiatan belajar lainnya. Ruang itulah yang nantinya akan diberi nama Saung Baca Penca.
“Sejak dulu saya suka main trivia dengan anak-anak, misalnya, ‘Apa bahasa Sundanya ini…’, atau sebaliknya,” kata Ki Didih Supriyadi, guru silat di Saung Penca. “Dari sana saya pikir rasa penasaran (pada ilmu pengetahuan) bisa dipancing,” tambahnya.
Rencana tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan 15 tahun perjalanan Buku Berkaki. Selama ini, Buku Berkaki kerap menyalurkan buku kepada anak-anak, terutama mereka yang berada di panti asuhan, rumah singgah, rumah belajar, serta sejumlah daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan bacaan. Saung Baca Penca mencoba membawa semangat tersebut ke lingkungan yang sedikit berbeda. Buku akan ditempatkan berdampingan dengan aktivitas pencak silat.

Anak-anak yang datang berlatih nantinya dapat mengambil buku sebelum, di sela rehat, atau sesudah latihan. Mereka bisa membaca cerita, membuka ensiklopedia, mencari kata dalam kamus bahasa Sunda, mengenal pertanian, atau mempelajari kebudayaan Sunda. Koleksi seperti itulah yang direncanakan mengisi rak-rak Saung Baca Penca. Perpustakaan ini juga tidak dirancang menjadi tempat menyimpan buku semata. Saung Baca Penca diharapkan berkembang sebagai ruang belajar bagi anak-anak usia 7 hingga 15 tahun, anggota Saung Penca, serta masyarakat di sekitar Desa Cimande. Tujuannya mencakup peningkatan minat baca, penyediaan bacaan berkualitas, hingga mempertemukan pendidikan karakter dengan nilai-nilai yang selama ini dipelajari melalui pencak silat.

Kelak, kegiatan di dalamnya dapat bergerak lebih luas. Ada membaca bersama, mendongeng, kelas menulis, diskusi buku, pendidikan karakter berbasis budaya, hingga berbagai kelas keterampilan. Dengan konsep tersebut, anak-anak tidak harus datang ke saung hanya ketika jadwal latihan pencak silat berlangsung.
Mewujudkannya tentu membutuhkan proses. Harapannya, selepas berlatih kuda-kuda dan jurus pencak silat, anak-anak Cimande mempunyai pilihan lain sebelum pulang: duduk sebentar di saung, mengambil sebuah buku dari rak, lalu mulai membaca.
