Di tengah perbukitan gersang Basilicata, wilayah paling terpencil di Italia selatan, sebuah kendaraan kecil berwarna biru langit melaju perlahan. Ia adalah rumah mini beroda tiga, lengkap dengan atap genteng merah, cerobong asap, dan rak penuh buku. Di balik kemudinya duduk Antonio La Cava, seorang pensiunan guru yang telah mengabdikan dua puluh tahun terakhir hidupnya membawa keajaiban membaca ke desa-desa terlupakan.
Antonio La Cava lahir pada 28 April 1945 di Ferrandina, sebuah kota kecil di provinsi Matera. Ia tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana, di mana kehidupan bergerak mengikuti irama musim dan kerja keras. Dalam ingatan masa kecilnya yang paling berharga, Antonio bercerita tentang malam-malam ketika ibunya mematikan satu-satunya lampu di rumah mereka. Saat itu, di usia delapan atau sembilan tahun, ia mulai menemukan hasrat terhadap membaca. Dengan diam-diam, ia menyalakan sebatang lilin untuk terus membaca di kegelapan.
“Lilin itu tidak pernah padam di dalam diriku,” kenang Antonio bertahun-tahun kemudian. “Ia tetap menyala, memberi makan pada gairah yang mendorongku menempuh 200.000 kilometer perjalanan”.
Dari lilin kecil itulah, di tengah kehidupan yang penuh keterbatasan, tumbuh kecintaan yang begitu mendalam terhadap buku dan literasi. Kecintaan yang kelak akan mengubah kehidupan ribuan anak di seluruh Basilicata.
Lahirnya Bibliomotocarro
Antonio menikah dengan Angela Martoccia, wanita yang menjadi pasangan setianya. Bersama Angela, ia membangun keluarga yang hangat dengan tiga orang anak yang kemudian memberinya lima cucu. Keluarga ini menjadi sumber kekuatan dan dukungan terbesar bagi Antonio dalam menjalani misi mulianya. Selain sebagai guru dan penggiat literasi, Antonio juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Komite Provinsi Matera dari FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio), bahkan pernah menjadi Komisaris Teknis Tim Representatif Lucania yang meraih gelar Juara Italia pada 1989. Sejak 1975, ia juga menjadi pengurus Centro di Cultura Popolare di UNLA (Unione Nazionale per la Lotta contro l’Analfabetismo), organisasi nasional untuk pemberantasan buta huruf.
Komitmen Antonio terhadap pendidikan dan budaya terlihat dari dedikasi panjangnya. Ia mengajar sebagai guru sekolah dasar selama 42 tahun penuh. Di sekolah itulah ia menyaksikan langsung bagaimana hubungan antara anak-anak dan buku semakin melemah seiring waktu. “Anak-anak, ada masalah, kita harus melakukan sesuatu!” ujarnya suatu hari di kelas.1
Murid-muridnya merespons dengan sederhana namun penuh kepercayaan: “Pak guru, Anda bisa melakukan sesuatu”. Kata-kata itu menanam benih di hatinya. Dan ketika anak-anak itu semakin besar, mereka berkata dengan lebih tegas: “Pak guru, Anda harus melakukan sesuatu”.

Antara tahun 1999 dan 2000, Antonio akhirnya mewujudkan ide yang telah lama bersemayam dalam hatinya. Ia membeli sebuah Piaggio Ape bekas, kendaraan roda tiga kecil yang biasa digunakan petani untuk menjual sayur dan buah keliling, lalu mengubahnya menjadi perpustakaan berjalan yang ia beri nama Bibliomotocarro.2
Kendaraan itu didesain dengan penuh perhatian dengan atap berbentuk rumah, rak-rak buku sepanjang 12 meter yang bisa menampung hingga 1.000 buku, serta bagian belakang yang diubah menjadi ruang bioskop kecil tempat anak-anak bisa menonton film pendek animasi yang terinspirasi dari cerita literatur. “Begitu Anda melihatnya, Anda langsung merasa senang,” ujar Antonio. “Bentuk rumahnya memberikan kesan tempat berlindung, relaksasi. Itulah yang ditawarkan setiap buku”.
Bibliomotocarro berkeliling ke desa-desa dengan populasi kurang dari 1.000 penduduk, tempat-tempat yang sering kali tidak memiliki perpustakaan atau toko buku sama sekali. Antonio mengumumkan kedatangannya dengan musik organ yang mengalun dari kendaraannya. Begitu suara itu terdengar, anak-anak berlari menghampiri seolah bintang televisi telah tiba.
Di desa terpencil seperti San Paolo Albanese yang hanya memiliki 270 penduduk, dan dua di antaranya anak usia sekolah dasar, kehadiran Bibliomotocarro seperti membawa angin segar ke padang tandus.
Buku-Buku Putih dan Imajinasi Tanpa Batas
Selain meminjamkan buku, Antonio juga menciptakan inovasi luar biasa bernama “Buku-Buku Putih” (White Books). Suatu hari, di San Mauro Forte, seorang gadis Bulgaria bernama Adalina dengan malu-malu menghampirinya dan berbisik, “Pak guru, bagaimana kalau kita sendiri yang menulis bukunya?”.
Pertanyaan sederhana itu membuka cakrawala baru. Antonio kemudian membeli 200 buku catatan kosong bersampul merah, hijau, dan biru, lalu membagikannya ke berbagai desa di Basilicata. Anak-anak menulis cerita di dalamnya—cerita yang dimulai di satu desa, dilanjutkan oleh anak-anak di desa lain, dan disambung lagi di tempat berbeda. Cerita-cerita itu saling bertaut, menghubungkan komunitas yang terisolasi menjadi satu kesatuan naratif.
“Ini adalah lokakarya menulis keliling,” jelas Antonio. “Tetapi lebih dari itu, ini adalah kesempatan luar biasa bagi anak-anak untuk menceritakan kisah mereka. Ada kebutuhan besar untuk cerita-cerita seperti ini”.
Antonio mengemudikan Bibliomotocarro sejauh 200 hingga 300 kilometer setiap hari, dan ia tidak pernah berhenti bahkan di musim panas. “Bibliomotocarro tidak pernah libur!” tegasnya. Hingga kini, ia telah menempuh lebih dari 180.000 kilometer selama hampir dua puluh tahun, dengan 50.000 kilometer ditempuh dalam tiga tahun terakhir saja.
Antonio membiayai seluruh proyek ini dari kantongnya sendiri, mulai dari bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga pembelian buku-buku baru. “Saya sangat khawatir tua di negara yang penduduknya tidak membaca,” ungkapnya. “Tanpa buku, anak sering kali sendirian. Melakukan tindakan seperti ini bukan hanya memiliki nilai sosial dan budaya, tetapi juga memiliki makna etis yang sangat dalam”.3
Pada awal perjalanannya, banyak orang yang meragukan. “Pak guru, apa yang Anda lakukan? Hal kuno, ketinggalan zaman. Masih dengan buku! Anda terjebak di masa lalu. Buku sekarang sudah kuno,” kata sebagian orang.
Antonio menjawab dengan tenang, “Lihat, Bibliomotocarro adalah ide pascamodern”.
Ia percaya bahwa buku-buku, yang dulunya ditempatkan tinggi di rak-rak bangsawan sebagai simbol budaya elit, harus turun ke jalan, ke tangan rakyat biasa. “Buku ditulis oleh segelintir orang, dibaca oleh segelintir orang. Basis demokratis perlu diperluas,” ujarnya.
Bahkan dalam pidato TEDx-nya, Antonio menceritakan sebuah dongeng yang ia yakini sebagai kisah nyata: di tahun-tahun awal, Bibliomotocarro tidak bisa melaju lebih dari 30-35 km per jam di jalan-jalan besar. Ia bingung kenapa. Kemudian ia menyadari—buku-buku di dalamnya sedang marah! Mereka tidak suka dipindahkan dari rak-rak tinggi yang mulia ke dalam kendaraan rendahan seperti ini.
“Tapi siapa dia ini? Apa yang dipikirkan guru ini? Kami ada di rak yang tinggi dan mulia,” protes satu buku kepada yang lain. “Mereka menaruh kami di rak sederhana, di motocarro yang rendah, dan mengajak kami keliling jalan. Kami adalah Buku”.
Namun Antonio yakin buku-buku itu akan berubah pikiran. Kini, Bibliomotocarro bahkan bisa melaju hingga 50 km per jam, “Karena aku didorong oleh antusiasme buku-buku yang memahami bahwa bersama-sama kami harus mencari pembaca baru,” kata Antonio dengan senyum.
Proyek Antonio telah menginspirasi inisiatif serupa di seluruh Italia, termasuk BiblioApe di Tuscany dan Ape Randagia. Karyanya telah diliput oleh berbagai media internasional, termasuk BBC, dan bahkan menjadi subjek film dokumenter pemenang penghargaan berjudul “Moving Libraries – with Antonio La Cava in Ferrandina” yang meraih Best Short Documentary 2020.4
Bagi Antonio, semua ini bukan tentang dirinya. Ini tentang anak-anak yang berlari menghampiri kendaraannya dengan mata berbinar. Ini tentang gadis kecil Bulgaria yang ingin menulis ceritanya sendiri. Ini tentang desa-desa terlupakan yang akhirnya punya akses terhadap dunia imajinasi dan pengetahuan.
“Budaya dibuat oleh dan untuk semua orang, bukan hanya segelintir yang memiliki hak istimewa,” tegasnya.5
Dengan kerendahan hati yang sama seperti kendaraan roda tiganya, Antonio La Cava terus mengemudi melintasi bukit-bukit berbatu Basilicata, membawa buku, harapan, dan mimpi kepada generasi baru pembaca. Dan dalam setiap perjalanannya, lilin yang dinyalakan oleh seorang bocah petani 65 tahun lalu tetap menyala terang, menerangi jalan bagi ribuan anak lain yang haus akan cerita.
