Annisa Paramita Menjalankan Kembali Buku Berkaki

6 menit membaca

Minat Annisa Paramita terhadap buku telah terlihat sejak ia masih kecil. Menurutnya, itu dapat membuatnya memiliki banyak teman dengan beragam cerita dan juga buku ia jadikan sebagai alat pembunuh waktu yang paling tepat. Berkat kecintaannya pada buku itulah, perempuan yang juga menggemari fotografi dan travelling ini akhirnya bergabung bersama Buku Berkaki, sebuah komunitas yang berfokus pada penyediaan bacaan variatif untuk anak-anak di panti asuhan, lapak pemulung, serta anak jalanan.

“Awalnya saya mengikuti komunitas foto Insta Nusantara dan berkenalan dengan Kak Ali dan Kak Meyer. Mereka dulunya bergabung di Buku Berkaki yang saat itu sedang vakum. Saya dan beberapa kawan tersebut akhirnya membantu menghidupkan kembali komunitas Buku Berkaki dengan mulai mengaktifkan peminjaman buku, serta program-program saat melakukan peminjaman.” Cerita perempuan 29 tahun ini mengenai awal mula ia bergabung dengan Buku Berkaki.

Buku Berkaki yang telah didirikan sejak tanggal 30 September 2011 ini memang sempat vakum karena padatnya kegiatan lain para relawan—yang dalam Buku Berkaki dinamakan Krucil ini. Namun, setelah diaktifkan kembali, jumlah Krucil pun akhirnya mencapai 150 orang dan siapa saja bebas untuk mendaftarkan diri dengan mengisi form yang ada di website mereka.

Nama Buku Berkaki yang bisa dibilang unik ini memang memiliki makna yang cukup berarti. “Kenapa namanya Buku Berkaki? Karena diharapkan buku yang para Krucil bawa bisa berjalan laiknya kaki. Bisa menjangkau adik-adik yang membutuhkan bacaan yang lebih variatif.” Jelas perempuan kelahiran 2 Oktober 1987 ini.

 

Buku Berkaki yang sebelumnya tidak memiliki homebase tetap—melainkan berpindah-pindah dari kost-kostan satu ke yang lainnya, kini diberi kesempatan oleh Belantara Budaya Indonesia untuk memfasilitasi perpustakaan anak di Museum Kebangkitan Nasional sejak 1 Agustus 2015. Buku Berkaki sendiri memiliki beberapa program, yakni: Drop Buki yang bertujuan untuk memperkenalkan Buku Berkaki di kawasan publik, Visit Buki yang memiliki agenda berkunjung ke panti-panti asuhan atau rumah singgah yang membutuhkan bantuan buku, Jemput Buki yang diperuntukkan untuk para donatur Jabodetabek dengan bantuan para Krucil, dan BUI yang merupakan singkatan dari Buku untuk Indonesia—dan diadakan untuk beberapa daerah yang membutuhkan bantuan buku.

Berkenaan dengan masalah buku dan membaca, terdapat fakta mencengangkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca berdasarkan studi ‘Most Littered Nation in the World’ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu. Mengenai hal ini, Annisa pun berbagi pendapatnya. “Menurut saya, kalau anak-anak di perkotaan mungkin minatnya menjadi rendah digeserkan oleh teknologi. Kalau di daerah yang jauh dari perkotaan, mungkin dikarenakan akses mereka terhadap buku yang masih minim. Sepanjang pengalaman kami untuk di perpustakaan daerah, adik-adiknya justru antusias berkunjung dan memberdayakan perpustakaan.”

Selain rendahnya minat baca di Indonesia, hal lain yang perlu dicermati adalah harga buku yang kian meningkat bagi para pencinta buku. Namun, menurut pemilik nama lengkap Annisa Paramita Pratyasto ini menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar. “Kalau menurut saya, harga mahal pada sebuah buku sebenarnya menjadi wajar jika kita melihat biaya penerbitan, toko buku, dan tentunya untuk penulis itu sendiri. Malah saya lebih khawatir jika buku yang diterbitkan justru malah tidak berkualitas, meski harganya murah. Solusi untuk para pencinta buku, mungkin bisa memberdayakan kembali perpustakaan. Bahkan ada beberapa aplikasi perpustakaan digital yang bisa diakses dengan mudah.” Ungkapnya.

 

Dengan hadirnya Buku Berkaki dan komunitas-komunitas buku lain di Indonesia, tentunya sangat membantu agar minat baca di Indonesia semakin meningkat di berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan, di Buku Berkaki, mereka memiliki semacam raport untuk memonitor minat baca anak-anak dengan cara menabung ringkasan. Tiap ringkasan diberikan satu stamp dan rencananya anak yang paling rajin membaca akan mendapatkan hadiah untuk memotivasinya agar lebih rajin membaca.

Bergabung dengan Buku Berkaki tentunya membuat Annisa lebih kaya pengalaman. Banyak hal-hal yang membuatnya lebih semangat berkat tingkah anak-anak yang kerap mereka kunjungi. “Saat Buku Berkaki datang, mereka rela bikin spanduk penyambutan buatan mereka sendiri, celetukan mereka. Background keluarga mereka juga bikin sedih kadang. Saat pembuatan buku PS I Love Mom—buku garapan Buku Berkaki kolaborasi dengan Panti Asuhan Al-Andalusia, ada anak kecil seumur SD yang baru saja ditinggalkan ayah ibunya. Bahkan di beberapa panti asuhan, mereka dibuang oleh orang tua. Namun mereka tetap ceria dan bahagia. Itulah yang bikin semangat di Buku Berkaki.” Tukas perempuan yang juga bekerja sebagai karyawan swasta di industri makanan ini.

“Bagi saya, penting untuk perempuan khususnya memulai budaya membaca, karena perempuan punya posisi penting sebagai alat penerus ilmu pengetahuan sendiri, tidak hanya untuk keturunannya, namun juga untuk masyarakat sekitarnya.” Tutup Annisa.

**

Artikel ini telah tayang lebih dulu di Boonda.id

bukuberkaki

Ini adalah semacam gerakan sosial. Layaknya kaki, maka pasti hubungannya dengan jalan-jalan. Jalan-jalannya dari panti ke panti. Nah, yang jalan-jalannya adalah bacaan gratis.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Cerita Sebelumnya

#RabuBacaBuku: Edutivity, Warna-Warni Nusantara

Cerita Berikutnya

#RabuBacaBuku: Kisah Kota Kita

Terbaru dari Blog

#RabuBacaBuku: Na Willa

Siapa bilang kalau cerita anak hanya bisa dinikmati oleh para anak kecil? Mengambil latar belakang Surabaya