/

Perpustakaan Era Keemasan Islam

6 menit membaca

Malam tujuh belas Ramadan menjadi tonggak besar bagi akal manusia. Perintah pertama kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, Iqra (bacalah), merupakan dorongan memahami semesta dan ilmu pengetahuan. Dari sinilah peradaban Islam lahir sebagai pelopor tradisi keilmuan, menciptakan segala kemajuan segala bidang, melampaui capaian zaman sebelumnya. Ini juga bentuk penghormatan tertinggi terhadap akal yang dianugerahkan Tuhan.

Sejak awal, para sahabat Nabi dan generasi setelahnya sadar bahwa pesan harus didokumentasikan dengan akurat. Dari kesadaran itu lahir budaya menyalin naskah dengan disiplin. Ayat-ayat disalin di atas pelepah kurma, lempengan batu, kulit hewan, dan tulang oleh para sahabat, sebelum dikodifikasi menjadi satu mushaf standar pada masa Khalifah Utsman bin Affan.1

Perlahan, rumah ibadah mewadahi ruang diskusi. Tradisi lisan Arab berpadu dengan tradisi tulis yang rapi, membentuk fondasi pendidikan formal yang kelak diadopsi berbagai bangsa.

Institusi Ilmu sebagai Jantung Kehidupan Sosial

George Makdisi dalam The Rise of Colleges menekankan bahwa tradisi pendidikan Islam bertumpu pada sistem wakaf yang kokoh.2 Wakaf membuka akses ilmu bagi masyarakat tanpa sekat kasta. Ambol contoh bagaimana Perpustakaan Nizhamiyyah di Baghdad yang didirikan Wazir Nizham al-Mulk pada abad ke-11 sebagai pusat saraf intelektual Abbasiyah. Tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali mengasah pemikiran di sana. Koleksinya merentang dari hukum hingga astronomi, dikelola dengan katalog maju. Memiliki koleksi buku yang dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia untuk diterjemahkan dan dikembangkan.

Lebih lagi, perkembangan perpustakaan ini ditopang teknologi. Sejarawan dan arsitektur Islam, Jonathan Bloom, mencatat bahwa kertas dari Samarkand dan Baghdad mengubah wajah peradaban.3 Lebih murah dan tahan lama dibanding perkamen, kertas memungkinkan produksi buku massal. Industri penyalinan bergerak menjadi profesi terhormat. Pedagang buku di pasar Baghdad menjadi cendekiawan yang hafal isi dagangannya. Interaksi penulis, penyalin, dan pembaca di ruang publik melahirkan ekosistem intelektual sehat. Ilmu pengetahuan menjadi milik publik, bukan hanya milik segelintir elit.

Semangat inklusif ini tampak dalam pengelolaan perpustakaan sebagai ruang terbuka. Pelajar di Baghdad mendapat fasilitas penginapan dan biaya hidup dari dana wakaf agar fokus membaca dan menulis. Tradisi ini menegaskan tanggung jawab negara mencerdaskan warganya. Perpustakaan menjadi wadah negosiasi gagasan yang melahirkan inovasi dalam kedokteran, matematika, hingga filsafat. Keberhasilan Baghdad menginspirasi wilayah lain, membangun jaringan pengetahuan dari Asia Tengah hingga pesisir Afrika Utara.

Mercusuar Pengetahuan dari Andalusia hingga Kairo

Semangat literasi menjalar hingga ujung barat dunia Islam, tepatnya di Andalusia lewat Perpustakaan Umawiyyah di Cordoba. Di bawah Al-Hakam II (961-976 M), perpustakaan ini menjadi simbol puncak kejayaan intelektual yang menerangi Eropa di masa kegelapan. Budaya literasi Andalusia membuka ruang dialog produktif antarilmuwan lintas agama.4

Di timur, al-Qarawiyyin di Maroko yang didirikan Fatima al-Fihri menjadi universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Kejayaan Andalusia juga menunjukkan buku sebagai simbol diplomasi. Para duta besar dari kerajaan jauh kerap membawa buku sebagai hadiah paling berharga bagi penguasa Cordoba.

Sementara  di Kairo, Perpustakaan al-Azhar mengembangkan tradisi penjilidan dan restorasi naskah yang rumit demi menjaga pengetahuan tetap awet. Masyarakat di sana memiliki kecintaan terhadap estetika buku, dari kaligrafi hingga ilustrasi. Ribuan juru tulis bekerja siang dan malam, memastikan salinan buku terbaru tersebar ke berbagai kota.5

Dampak pembangunan perpustakaan terasa pada lahirnya penemuan besar. Di ruang-ruang ini, karya filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato diselamatkan, dikomentari, lalu dikembangkan. Tanpa upaya pelestarian di Kairo, Cordoba, dan Baghdad, banyak khazanah pemikiran dunia mungkin lenyap ditelan perang dan bencana. Kesadaran menjaga warisan intelektual sekaligus melahirkan pemikiran baru menjadi kunci mengapa peradaban Islam mampu memimpin dunia begitu lama.

Menghidupkan Kembali Tradisi Pena di Era Modern

Sejarah perpustakaan pada masa keemasan Islam menunjukkan bahwa kemajuan bangsa selalu sejalan dengan kecintaan pada buku. Cahaya peradaban meredup ketika tradisi membaca dan meneliti ditinggalkan. Kini tantangan hadir dalam bentuk banjir informasi digital, namun esensi perintah “Iqra” sama sebagai dasar literasi guna membangunan karakter manusia. Nuzulul Quran yang diperingati setiap 17 Ramadan menjadi momentum refleksi, mengingatkan bahwa akal harus dipakai untuk mendalami ilmu. Sejarah telah menulis, pena ulama lebih abadi daripada pedang penakluk.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh BUKUBERKAKI (@bukuberkaki)


Membaca buku juga berfungsi sebagai benteng terhadap kebodohan dan fanatisme sempit. Masyarakat yang terbiasa membaca memiliki kedalaman berpikir untuk memilah fakta dari sekadar opini.

Tradisi perpustakaan masa keemasan Islam selalu terbuka pada kebenaran, dari mana pun asalnya.  Menghargai buku berarti menghargai proses panjang manusia mencari kebenaran. Mendukung perpustakaan kecil, taman bacaan, dan diskusi buku adalah langkah nyata melanjutkan misi peradaban yang dimulai di Gua Hira.

Cahaya ilmu tak akan padam selama ada tangan yang membuka lembaran yang haus pemahaman baru. Ramadan menjadi titik balik untuk kembali menjadi bangsa pembaca.

Referensi

  1. “Khazanah Mushaf Al-Qur’an dari Penyusunan hingga Perburuan”. Tirto.id. Diakses tanggal 06 Maret 2026.
  2. Makdisi, George. (1981). The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh University Press.
  3. Bloom, Jonathan M. (2001). Paper Before Print: The History and Impact of Paper in the Islamic World. Yale University Press.
  4. Menocal, Maria Rosa. (2002). The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain. Little, Brown and Company.
  5. Pedersen, Johannes. (1984). The Arabic Book. Princeton University Press.

Ali Zaenal

Penafsir ruang dan waktu

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.