/

Phoenix Library, Perpustakaan dari Puing Gaza

7 menit membaca

Gaza, tanah yang berkali-kali digempur Zionis Israel, kehilangan ruang belajar, ruang bermain, dan ruang untuk bermimpi. Sekolah-sekolah rata dengan tanah, universitas hancur, perpustakaan lenyap. Kehidupan sehari-hari dipenuhi rasa kehilangan. Namun di tengah kehancuran itu, dua sosok muda Gaza melahirkan gagasan membangun Phoenix Library, sebuah perpustakaan yang berdiri sebagai simbol harapan di tengah puing.

Menyelamatkan Buku dari Puing

Salah satu penginisiasi perpustakaan adalah Omar Hamad. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa buku adalah bentuk kebebasan. Sejak kecil ia menabung koin demi koin untuk membeli dua atau tiga buku setiap bulan. Koleksi itu menjadi harta paling berharga dalam hidupnya. Ketika rumahnya hancur akibat serangan Israel, ia berusaha menyelamatkan buku-bukunya. Sebagian besar buku dibiarkan begitu saja di antara puing. Ia lantas menulis pesan: “Jika kau menemukan buku-buku ini, rawatlah. Mereka adalah saksi hidup.”

Beberapa hari kemudian, ketika tentara mundur dari Khan Younis barat, ia kembali  dan menemukan buku-bukuyang ditinggalkan itu masih ada, meskipun beberapa catatannya hilang.
Bagi Omar, buku adalah sahabat pengingat bahwa pengetahuan bisa menjadi benteng terakhir ketika segalanya runtuh. Ia percaya bahwa membaca adalah bentuk pemberontakan sunyi, cara untuk melawan tanpa senjata. Dari pengalaman menyelamatkan koleksi pribadinya, lahirlah tekad untuk membangun ruang yang lebih besar: sebuah perpustakaan yang bisa menampung mimpi seluruh Gaza.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Omar Hamad 𓂆 (@omar.hamad7)

Omar sering menceritakan bagaimana ia duduk di antara puing rumahnya, membuka halaman yang berdebu, dan merasakan kembali kehangatan dunia yang pernah ia kenal. Buku-buku itu merupakan jembatan menuju masa depan. Ia yakin bahwa jika generasi muda Gaza memiliki akses ke buku, mereka akan menemukan kekuatan untuk bertahan.

Penggagas lainnya ialah Ibrahim, seorang guru dan penerjemah. Baginya, bahasa adalah kekuatan yang mampu menembus batas, lebih tajam daripada senjata. Saat rumahnya hancur, ia menemukan kembali rak bukunya di antara puing. Momen itu menjadi titik balik. Ia menyadari bahwa kata-kata tidak hanya bisa menjadi pelarian dari kenyataan, tetapi juga fondasi untuk membangun kembali kehidupan.

Sebagai pendidik, Ibrahim melihat generasi muda Gaza kehilangan ruang belajar. Ia tahu bahwa tanpa akses ke buku, anak-anak akan tumbuh tanpa mimpi, mahasiswa tanpa ilmu, dan masyarakat tanpa suara. Dari kesadaran itu lahirlah mimpi untuk membangun perpustakaan dari kehancuran, menjadikannya simbol bahwa pengetahuan bisa bertahan bahkan di tengah tragedi.

Ibrahim sering berbicara tentang bagaimana setiap kata yang ia terjemahkan adalah bentuk perlawanan. Ia percaya bahwa bahasa bisa menghubungkan Gaza dengan dunia, membuka ruang dialog, dan memperlihatkan bahwa di balik berita konflik ada manusia yang bermimpi.

“Saya membaca Tamim Al-Barghouti, yang mengubah puisi menjadi perlawanan, dan Gabriel García Márquez, yang mengatakan bahwa tugas seorang penulis adalah berdiri bersama mereka yang tidak memiliki suara,” tuturnya.

Phoenix Library adalah wujud dari keyakinan mereka berdua. Nama ini diambil burung mitologi yang bangkit dari abu setelah terbakar, menjadi simbol paling tepat untuk Gaza. Dari kehancuran lahir harapan, dari abu lahir kehidupan baru. Perpustakaan ini adalah Phoenix yang bangkit dari puing-puing, membawa cahaya pengetahuan ke tanah yang gelap.

Perpustakaan dari Puing

Kehancuran Gaza merenggut hampir semua ruang belajar. Masyarakat kehilangan akses ke pengetahuan. Omar dan Ibrahim menyadari bahwa jika tidak ada tindakan, generasi Gaza akan tumbuh tanpa ruang untuk bermimpi. Perpustakaan ini dirancang dengan visi menjadikan membaca sebagai bentuk perlawanan. Mereka ingin menciptakan ruang aman bagi anak-anak, ruang ilmu bagi mahasiswa, ruang ekspresi bagi seniman, dan ruang suara bagi penulis lokal. Di dalamnya akan ada buku-buku sastra, filsafat, sejarah, sains, dan seni. Ada ruang khusus anak-anak dengan aktivitas kreatif dan permainan. Ada panggung kecil bagi penyair untuk membacakan karya mereka. Ada dinding yang bisa dipenuhi lukisan seniman Gaza.

Misi mereka juga sederhana, yakni menyulam harapan dari puing. Mereka ingin dunia melihat bahwa Gaza bukan hanya tentang Genosida, tetapi juga tentang kebangkitan budaya. Mereka ingin mendokumentasikan perjalanan pembangunan perpustakaan ini agar dunia menyaksikan bahwa dari tanah yang hancur seribu kali, Gaza memilih untuk bangkit seribu satu kali.

Perjuangan membangun perpustakaan berlangsung di lapangan sekaligus di ruang maya. Unggahan Instagram tentang Phoenix Library memperlihatkan rak buku sederhana, anak-anak yang tersenyum sambil memegang buku, dan relawan yang menata koleksi dengan penuh cinta. Narasi visual ini memperkuat pesan bahwa perpustakaan adalah ruang hidup. Beberapa komentar mendukung gerakan mereka: “Buku adalah cahaya, dan Phoenix Library adalah lentera Gaza.” Ada pula yang menulis: “Melihat anak-anak membaca di tengah puing membuat saya percaya bahwa harapan selalu menemukan jalannya.”

Dukungan datang dari berbagai penjuru. James Folta, seorang penulis di Literary Hub, menulis: “Dua orang Palestina berusaha menyelamatkan buku-buku di tengah reruntuhan, dan dari usaha kecil itu lahirlah gagasan besar: sebuah perpustakaan publik di Gaza.”

Banyak pecinta buku di berbagai negara menyumbangkan koleksi pribadi, mengirimkan donasi, dan menyebarkan kabar tentang perpustakaan ini. Melalui platform Chuffed, Omar dan Ibrahim memulai kampanye penggalangan dana. Mereka mengajak orang untuk menjadi bagian dari cerita. Setiap donasi adalah batu bata yang menyusun perpustakaan. Setiap buku yang dikirim adalah cahaya yang menembus gelap.

Phoenix Library menjadi simbol bahwa sebuah bangsa yang membaca tidak akan pernah bisa dikalahkan. Pengetahuan menjadi benteng terakhir melawan keputusasaan. Anak-anak Gaza yang datang ke perpustakaan ini menemukan dunia baru di balik halaman buku. Mahasiswa menemukan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh senjata. Seniman menemukan ruang untuk mengekspresikan luka dan harapan.

Seperti yang mereka tulis di laman Chuffed: “Ada momen dalam sejarah ketika penciptaan sebuah perpustakaan menjadi tindakan kebebasan itu sendiri. Di Gaza, setelah genosida, kami memahami bahwa mimpi yang dilindungi oleh buku tidak akan menyerah—bahwa pengetahuan memiliki kekuatan untuk menarik sebuah kota kembali dari kehancuran.”

Ali Zaenal

Penafsir ruang dan waktu

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.