Sabtu Bersama Buku Berkaki

6 menit membaca

When a book walks, a dream works

Sabtu, 25 Februari 2017

Bermula dari obrolan random saya dengan teman teman kantor. Lalu tiba-tiba membahas tentang aktifitas sosial, lalu berujung lah pada nama suatu komunitas buku berkaki. Saya tau komunitas ini dari temen nya temen kantor. Singkat cerita dimulai Sabtu pagi itu saya pergi ke TKP di daerah Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan (dekat plaza festival) naik gojek. Bukan Jakarta kalau tidak macet dan panas, dan si bapak gojek bawa motornya ngebut but but but. Alhasil 45 menit saya sampai di tujuan dari Srengseng, Jakarta Barat ke Kuningan, Jakarta Selatan. Jam 11.30 sudah di depan TK SAAJA (Sekolah Alternatif Anak Jalanan). Cengo. Sendirian. Bingung. Ini pertama kali nya saya datang di acara Buku Berkaki. Tidak ada yang dikenal seorang pun sebelumnya di komunitas ini. Tidak tau juga letak tempatnya dimana (maklum belum hafal betul daerah Jakarta) dan itu tidak jadi halangan untuk tidak ikut bergabung apa yang kamu ingin, iya kan? Dan bagiku, hal ini adalah moment yang paling menarik selama pergi ke tempat/komunitas baru seorang diri. Rasanya seperti nekad ke Pare tahun lalu seorang diri. 

Penampakan TK SAAJA Param

Bentuk sekolahnya sangat kecil (maklum ini sekolah gratis untuk anak jalanan). Hanya ada 1 kelas. Taman bermain yang mini. Dan dibelakangnya terdapat lahan kosong dibawah pohon-pohon besar. Disanalah Buku Berkaki melakukan acara. Tanah kosong itu dilapisi terpal, sehingga perlu melepaskan sepatu/sendal untuk masuk kedalam ‘area’. Acara dimulai dengan senam bersama. Disana terdapat 25-30 anak yang usianya sekitar 3-6 tahun. Saya beserta krucil (sebutan untuk relawan Buku Berkaki) berdiri di sekeliling anak-anak dan mengikuti gerakan intruktur yang ada di depan. Awalnya sempet bingung harus gimana, tapi ketika melihat anak anak dengan senyum manis dan antusias nya saya pun ikut mengalir dalam suasana.

Lalu ada sesi membaca buku dongeng yang dibagi dalam beberapa kelompok. MC menyuruh para krucil untuk membantu dan menemani anak anak membacakan buku cerita bergambar. Secara random saya ambil buku yang berjudul “Fabel Anak Shaleh” dan mengajak mereka untuk ikut membaca bersama sambil duduk melingkar. Siapa sangka ada 8 anak saat itu yang ingin membaca buku bersama saya. Mereka semua antusias mendengarkan saya membacakan cerita dan juga berebut ingin menjawab pertanyaan. Ada juga yang menarik perhatian dengan cara duduk di pangkuan saya atau ada yang terus bercerita sana sini tentang binatang. Padahal sebelumnya saya tidak di briefing harus seperti apa dan gimana tekhnis nya, saya melakukan apa yang hati saya suruh saat itu. Ternyata jika segala sesuatu dilakukan dengan ‘hati’ semua terasa mengalir dan menyenangkan 🙂

Setelah membaca buku bersama, dilanjutkan dengan memberikan edukasi tentang makanan sehat dan tidak sehat. Setiap kelompok diberikan amplop yang isinya terdapat 20 potongan kertas yang bergambar makanan (dalam bentuk lucu) seperti permen, coklat, burger, wortel, apel, sayur, biskuit dan lain sebagainya. Mereka disuruh mengelompokkan mana makanan sehat dan tidak sehat. Semua berebut ingin menempelkan kertas bergambar makanan tersebut ke 2 kertas kosong yang sudah disediakan sebelumnya. Semua aktif dan menebak apa nama makanan yang ada pada gambar tersebut. Setelah selesai bermain, masing masing anak mendapatkan 1 buah apel. Apelnya besar untuk ukuran rahang anak anak dan sangat menyerukan melihat mereka bersusah payah menghabiskan apel tersebut.

Pada hari itu, kebetulan ada salah seorang anak yang sedang berulang tahun dan merayakan bersama anak anak TK SAAJA. Maka datanglah seorang badut lengkap membawa balon. Hal ini menambah keceriaan suasana. Semua anak bahagia, menyanyikan lagu ulang tahun. Aku pun tanpa sadar ikut tersenyum lebar dan bahagia.

Sungguh menyenangkan menghabiskan waktu bersama anak anak. Cara mereka berpikir yang simple dan bahagia dengan hal hal sederhana. Memang betul, ada yang bilang di umur seperti saya sekarang untuk menjaga keseimbangan berpikir, merasa dan bersikap yaiu dengan cara lebih banyak bergaul/bersosialisasi dengan anak anak dan lansia. Sempet berbincang dengan seorang teman dan menanyakan alasan dia untuk bergabung di komunitas ini apa? Dengan enteng dia menjawab, bermain bersama anak anak dia merasa kembali pada masa itu. Menyenangkan. Penghilang stres. Katanya seperti itu.

Hari ini saya banyak belajar. Jangan ragu atau takut untuk melakukan apa yang kamu inginkan, selalu ada campur tangan Allah didalamnya. Jika niat nya baik, insyaAllah semua dilancarkan. Awalnya niat datang ‘hanya’ untuk membantu/memberi apa yang saya bisa, ternyata saya mendapat ‘banyak’ disana. The more you give, the more you get. Lelah memang tapi ada rasa bahagia, senang, bangga di dalamnya yang tidak bisa digantikan bahkan dengan uang sekalipun.

Meskipun saya belum banyak mengetahui tentang komunitas ini selain informasi yang ada di website www.bukuberkaki.org tapi mereka semua sangat welcome terhadap orang baru. Foto diatas diambil oleh krucil krucil relawan pada hari itu. Terimakasih @bukuberkaki atas kesempatan untuk bergabung hari ini. I’m so currious for next event!

Semoga Menginspirasi!
**
Ditulis oleh Nunga Nungseu, Krucil Buku Berkaki

bukuberkaki

Ini adalah semacam gerakan sosial. Layaknya kaki, maka pasti hubungannya dengan jalan-jalan. Jalan-jalannya dari panti ke panti. Nah, yang jalan-jalannya adalah bacaan gratis.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Cerita Sebelumnya

#Buki6erbagi: Kebahagiaan di Kampung 99 Pepohonan

Cerita Berikutnya

#VisitBuki Kampung Dao: Belajar Bahasa Isyarat Itu Gampang

Terbaru dari Blog

#RabuBacaBuku: Na Willa

Siapa bilang kalau cerita anak hanya bisa dinikmati oleh para anak kecil? Mengambil latar belakang Surabaya