#VisitBuki Kampung Dao: Belajar Bahasa Isyarat Itu Gampang

“Ini kalau tiba-tiba ada kereta, gimana?”
“Udah tau jam-jamnya, sekarang lagi di jalur sebelah, nanti lewat.”

Saya berpikir, mobilisasinya saja sudah punya cerita tersendiri, bagaimana acaranya nanti? Tentunya lebih seru dong!

Akhirnya tiba di lokasi!

Akhirnya kami pun sampai di lokasi yang dituju, tepatnya di sebuah bangunan masjid yang sedang direnovasi, karena sekitar bulan September lalu sempat terjadi kebakaran di Kampung Dao, dan masjid ini kena dampaknya. Di ruangan berbentuk persegi panjang dan beralaskan terpal biru itu telah hadir adik-adik kita berjumlah kurang lebih 35 anak sedang bercengkrama dengan kakak-kakak krucil yang telah lebih dulu tiba, tentunya dengan jemputan yang sama dengan yang saya ceritakan tadi.

Acara pun dimulai oleh Saya dan Kadek yang pada hari itu bertugas sebagai MC, walaupun sebagian besar pekerjaan diemban Kadek, karena saya tidak berpengalaman. Hehe. Seperti biasa, agenda pertama #VisitBuki ialah membaca bersama. Di sini adik-adik yang sudah berkumpul dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing kakak krucil pembimbing untuk membaca buku-buku yang sudah disediakan. Setelahnya, kami pun mengajak beberapa adik-adik untuk berbagi bersama teman-teman lainnya untuk bercerita mengenai buku apa yang tadi sudah mereka baca.

This slideshow requires JavaScript.

Acara dilanjutkan dengan pengenalan istilah-istilah disabilitas kepada adik-adik, seperti tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, serta istilah-istilah lainnya. Selain itu, Kak Ocha dan Kak Rani juga mengajarkan simbol-simbol di fasilitas umum bagi para penyandang disabilitas, seperti tanda pada tempat duduk khusus di KRL, jalur setapak di stasiun dan trotoar bagi penyandang tuna netra, serta penanda toilet dan tanjakkan pengganti tangga untuk kaum tuna daksa. Antusiasme adik-adik Kampung Dao pun terlihat jelas tatkala di akhir sesi ini kami mengajak mereka untuk menjelaskan ulang informasi-informasi yang telah disampaikan.

Tiba saatnya di agenda terakhir, yakni belajar bahasa isyarat. Pada sesi ini, kami menghadirkan langsung Kak Fajar dan Kak Wiwi dari Rumah Komunitas. Dan kebetulan sekali kami bertemu dengan Selvi, salah satu peserta dari Kampung Dao ini yang menyandang tuna rungu. Kak Fajar dan Kak Wiwi pun mengajak Selvi dan teman-teman lainnya untuk belajar bagaimana cara perkenalan diri, mengenal alfabet dan angka, menunjukkan waktu, dan hal-hal menarik lainnya.

Tak terasa, waktu pun menunjukkan pukul 12 siang, acara pun kami tutup dan dilanjutkan dengan berfoto bersama. Namun, keseruan kami tak sampai di situ. Seusai shalat zuhur, kami masih bercengkrama dengan beberapa adik-adik Kampung Dao sebelum akhirnya berpisah.

Beranjak dari Kampung Dao, kami memutuskan untuk mengambil rute yang dipakai Kak Erwan, yakni jalan kaki menuju Stasiun Kampungbandan yang katanya lebih dekat. Sedikit deg-degan juga saat menyusuri jalur KRL pada siang hari itu, dan benar saja, ada KRL yang melintas! Untungnya kami masih bisa jalan di jalur sebelahnya. Saat sudah mendekati Stasiun Kampungbandan, kami pun berbelok ke jalan setapak, melewati tempat pembuangan hingga akhirnya sampailah di Stasiun Kampungbandan.

Foto rame-rame!

Sekian keseruan #VisitBuki untuk memperingati hari disabilitas kali ini. Sampai jumpa di acara Buki selanjutnya!