Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Jakarta [email protected] 0811.3227.777

#RabuBacaBuku: Na Willa

Siapa bilang kalau cerita anak hanya bisa dinikmati oleh para anak kecil?

Mengambil latar belakang Surabaya tahun 1960-an, Na Willa, karangan Reda Gaudiamo yang ilustrasinya digarap dengan apik oleh Cecillia Hidayat, ini bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Seperti judulnya, buku cerita ini memaparkan sketsa keseharian seorang anak perempuan bernama “Willa” dengan Mak, Pak, Mbok dan teman-teman bermainnya.
Read More

#RabuBacaBuku: Where The Wild Things Are (1963)

Source: Wikipedia

Where The Wild Things Are (1963) adalah buku cerita bergambar karya Maurice Sendak dengan hanya 338 kata di dalamnya. Buku peraih Caldecott Medal 1964 ini bercerita tentang Max, anak laki laki yang mengenakan kostum serigala dan mengacau di rumah sehingga ia dihukum untuk tidur tanpa makan malam. Kamarnya secara misterius berubah menjadi hutan dan Max bertualang di dalamnya hingga sampai ke sebuah pulau tempat para “Wild Things” hidup.

Selain diadaptasi ke dalam film dengan judul sama, buku ini juga menjadi inspirasi dalam lagu sebuah band asal Inggris, Alt-J. Lagu mereka berjudul Breezeblock mengutip seruan “Oh please don’t go, we’ll eat you up, we love you so” dari para Wild Things kepada Max ketika mereka ditinggalkan Max dalam cerita tersebut.

Yuk cerita ke Buki, kalau misalnya kita bisa berimaji tentang ‘Wild Things’ bikinan kita sendiri. Kira-kira bagaimana penampilannya? Apakah dia baik hati, suka makan atau rajin menghibur dan lainnya?

When a book walks, a dream works.

Serunya Visit Buki di Hari Kartini

Tepat 21 April, kita sebagai warga Negara Indonesia pasti tahu tanggal tersebut adalah hari peringatan dimana salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, pejuang pendidikan bagi kaum perempuan, seorang perempuan cerdas dengan pemikiran kritisnya yaitu R.A Kartini atau biasa kita sebut sejak jaman pendidikan sekolah dasar Ibu Kita Kartini lahir.

Bagi saya R.A Kartini merupakan inspirasi bagi setiap perempuan bahwa kita jangan pernah takut mempunyai cita-cita untuk terus mengenyam pendidikan tinggi yang kelak akan sangat berguna saat mendidik anak-anak kita. Mungkin bila bukan karena jasa dan aspirasi beliau, wanita Indonesia tetap dengan stigma harus di dapur, bersih-bersih tanpa harus mengenyam bangku pendidikan. Tapi bukan berarti wanita harus melupakan kodratnya untuk tetap bisa menguasai pekerjaan rumah ya!

Berkaitan dengan hari Kartini, kali ini saya ingin menuliskan sesuatu yang berbeda, bukan tentang cerita perjalanan saya mengunjungi tempat-tempat epic, instagramble, ataupun tourist attraction yang ada di Indonesia. Tetapi saya ingin menceritakan perjalanan lainnya yang tentunya pun menambah pengalaman dan arti kita sebagai manusia yang notabene adalah makhluk sosial. Read More

Belajar Mendongeng

Karena hari ini Visit Buki bersama adik-adik Missil, bertepatan dengan peringatan hari dongeng. Setiap tanggal 20 Maret diperingati sebagai Hari Dongeng Sedunia. Jadi hari ini adik-adik akan belajar membuat ‘wayang’ yang akan digunakan sebagai properti untuk pertunjukkan dongeng nantinya. Oya ada yang berbeda dengan visit kita hari ini, kalau biasanya kita belajar di bawah kolong jembatan 3 hari ini kita akan belajar di aula RPTRA Darma suci.

Mengulas sedikit tentang tempat ini…

Ini adalah ruang terbuka ramah anak. Menurut saya fasilitas publik yang baru diresmikan oleh Pak Ahok pada tahun 2016 ini cukup menarik. Bagaimana tidak, dengan adanya tempat ini anak-anak punya tempat bermain, tempat mengekspresikan diri. Tempat yang saya sebut taman ini dilengkapi berbagai fasilitas pedukung seperti, lapangan sepak bola, ayunan dan berbagai sarana bermain yang lain, juga ada aula sebagi pusat kegiatan, ada toilet, ruang perpustakaan dengan beberapa koleksi bukunya, tempat sampah juga koperasi yang dikelola oleh ibu-ibu setempat. Tempat ini bersih dan tertata rapi, mungkin karena masih baru. Tapi semoga akan tetap bersih dan terjaga seperti ini ya. Read More

Cerita Kami dari Pinggir Rel Kereta

Aku dan kamu sama sama tinggal di Jakarta. Tapi pernahkah kamu membayangkan rasanya tinggal di sebelah rel kereta? Bising lokomotif tiap waktu, riuh kendaraan yang mengantri di palang pintu lengkap dengan lengking bunyi bel peringatannya, dan tentu saja klakson kereta yang sangat memekakan telinga. Kami hidup persis di pinggir rel itu.

Rumahku begitu essential. Ku buka pintu dan langsung berhadapan dengan jalanan. Jalan ini hanya muat untuk satu mobil ukuran sedang. Pagar hijau membatasi jalan dengan rel kereta; pemandanganku setiap hari. Lupakan halaman rumah atau taman, aku punya sepanjang jalan untuk main bola dan berlarian.

Kau masih cukup beruntung di sana. Rumahmu masih bisa dijangkau matahari. Mari main ke tempatku. Aku juga tinggal di pinggir rel kereta. Pagar yang membatasiku dan rel bukan besi-besi yang dicat hijau. Namun beton-beton precast yang disusun beberapa lapis. Salah satu dinding rumahku, ya, beton itu. Jadi tiap kali kereta melintas, rumahku pun akan bergetar. Depan rumahku adalah gang sempit, hanya muat untuk satu motor. Siang tak pernah terang di sini. Remang. Bayangkan jika hujan. Read More

Dari Tepuk Sederhana Membawa Kebahagiaan

Hari ini Buku Berkaki ada agenda visit berkolaborasi dengan komunitas KBSI (Komunitas Belajar Sejahterakan Indonesia) di daerah dekat stasiun Pasar Senen. Lokasi visit kali ini tepat berada di samping rel kereta api. Anak anak yang datang berumuran antara kelas 1 sampai kelas 6 SD dengan jumlah kurang lebih 15-20 orang.

Saat kami datang, anak anak sangat antusias membaca buku dongeng yang kami bawa dari perpustakaan Buki. Mungkin buku yang kami bawa memiliki warna dan bentuk yang menarik dan hal itu berhasil membuat anak anak antusias. Seperti biasa di setiap acara Buki, para krucils menemani anak anak untuk membaca buku bersama karena memang komunitas Buki ini bertujuan untuk meningkatkan keinginan anak anak membaca buku. Buku Berkaki, buku-buku inspiratif yang datang mengunjungi anak anak seolah buku buku tersebut memiliki kaki. Hal ini berhasil meningkatkan minat baca dibandingkan membawa anak anak ke perpustakaan yang akan menguras waktu, tenaga, atau mungkin materi di mana tidak semua anak akan mau pergi kesana. Read More

#RabuBacaBuku: Kisah Kota Kita

‘Put yourself in someone else’s shoe’, begitu bunyi pepatah negara barat yang mengajarkan kita untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Kenapa harus ‘melihat dari sudut pandang orang lain’? Memangnya apa yang membuat melihat dari sudut pandang diri sendiri tidak cukup? Tentu saja bisa cukup…

…kalau kita lahir ke dunia, dimana kita adalah satu-satunya makhluk hidup.

Namun sayangnya—atau malah beruntungnya, kita terlahir di bumi yang berisi berbagai makhluk hidup (bayangkan betapa mengerikan tinggal di dunia tanpa tumbuhan, hewan dan manusia lain!), dimana interaksi satu sama lain menjadi tak terelakkan, dan setiap sikap dan tindakan yang kita ambil membawa dampak pada makhluk lain. Itulah yang berusaha diajarkan buku Kisah Kota Kita ini pada anak-anak lewat cerita dan gambar-gambarnya yang menarik. Read More